beberapa hari sebelum Tragedi Berdarah dijakarta, terjadi...
---------------------------------------------------------------------------------------
Jakarta, 19 ... 20xx. Hari ke-1
Pagi
ini aku merasa lebih lemas dibandingkan dengan malam sebelumnya. Sudah
tidak diragukan lagi meriang yang aku alami 3 hari terakhir ini
disebabkan karena guyuran hujan yang tidak memberikan kesempatan untuk
berteduh, ditambah lagi kondisi fisik yang super-lelah pada waktu itu.
Demam
yang aku alami kali benar-benar berbeda dengan yang sudah pernah aku
derita selama hidupku.Bedanya, kali ini lebih menyiksa! Bayangkan saja,
demam tinggi yang disertai sakit kepala ekstrim dan tidak ketinggalan
batuk pilek yang cukup parah. Sesekali hidungku meneteskan darah yang
sangat encer, sebetulnya tidak terlalu masalah buatku, hanya saja
mimisan dalam kondisi fisik seperti ini sungguh merepotkan! Benar-benar
neraka dunia bagi pria jomblo perantau yang tinggal sendirian. Di
saat-saat seperti inilah aku mulai merindukan kehangatan sebuah
keluarga.
Tidak banyak yang bisa aku lakukan sekarang... sebaiknya aku kembali tidur saja.
20 ,,, 20xx. Hari ke-2
Hari
ini aku tidak masuk kantor seperti hari-hari sebelumnya. Untungnya
dokter kenalanku mau berbaik hati menambahkan hari ekstra untuk hari
istirahatku, tapi ini bukannya curang, toh memang ternyata aku masih
membutuhkan istirahat sampai hari ini 'kan?
Sore
ini aku memesan nasi capcay dari warung masakan cina langgananku untuk
makan malam. Sambil menunggu makanan diantar aku membunuh waktu dengan
membaca majalah. Tentu saja aku minta makanannya diantar, dalam keadaan
sakit seperti ini kelihatannya akan memperburuk kesehatan jika harus
keluar kamar kos. Majalah lifestyle terbitan terbaru yang sama sekali
belum sempat kubaca itu aku baca hanya sekilas saja di tiap halamannya
karena kepalaku masih agak pening.
ketika
aku sedang membalik halaman tiba-tiba pandanganku menempel pada halaman
iklan sebuah restoran yang sudah lama sekali tidak aku kunjungi, sebuah
restoran steak. Potret close-up daging steak sirloin, itu membuat nafsu
makanku meraung-raung.
Ini
aneh sekali mengingat aku sudah menjadi seorang vegetarian sejak 5
tahun yang lalu, dan dalam 1 tahun belakangan ini aku sudah sama sekali
tidak tergoda oleh masakan daging. Memang 2 hari terakhir ini nafsu
makanku lebih besar daripada biasanya, mungkin karena tubuhku memang
membutuhkan nutrisi untuk fase penyembuhan, tapi... daging? Itu
benar-benar bertentangan dengan keyakinanku.
Ketukan
di pintu kamarku membuyarkan lamunan tentang daging steak yang terlihat
lezat itu, ternyata pesananku sudah datang. Dan aku mulai bersantap
malam setelah membayar tagihan yang diberikan oleh si pengantar
makanan.
Tapi nasi capcay vegetarian langgananku ini tidak senikmat seperti biasanya...
... karena pikiranku masih membayangkan daging steak yang tebal itu.
21 ... 20xx. Hari ke-3
Bahkan
pagi ini pun aku menginginkan daging steak untuk sarapan, walaupun
pikiranku sejak tadi teralihkan oleh rasa gatal disekujur tubuhku.
Sepertinya penyakitku bertambah parah, pusing tak kunjung reda, demam
pun masih tinggi dan sekarang ditambah lagi penyakit kulit yang tidak
jelas penyebabnya.
Perutku
terasa sangat lapar, tapi tubuhku sepertinya sangat malas untuk
melakukan sesuatu, mungkin karena kelelahan, jadi aku memutuskan untuk
berbaring sejenak sambil menggaruk pelan bagian tubuh yang terasa
gatal.
Bayangan
daging steak itu kembali terbayang di pikiranku. Entah mengapa aku
terpikir untuk menyantap daging steak di restoran itu setelah aku sembuh
nanti, apakah aku sudah melupakan pantanganku akan daging? Atau, aku
sudahi saja keyakinanku sebagai seorang vegetarian? Lagipula semua orang
juga makan daging.
Sambil
berbaring dengan posisi badan miring, tatapanku terus terpaku lurus
pada apa yang ada di depanku. Tidak ada pemandangan yang spesial, hanya
ada lengan kiriku dan tembok polos kamarku sejauh mata menatap.
Lalu
pikiranku mulai kacau, aku mulai melihat lengan kiriku sebagai daging
steak yang lezat. Rasanya ada yang salah tapi ini menyenangkan! Biarlah
aku melepas imajinasi liarku untuk kali ini saja. Dan tiba-tiba saja ide gila itu muncul... untuk mencicipi segigit daging dari lengan kiriku.
Ah, tidak... tidak.
Hal gila itu tidak mungkin aku lakukan, kepalaku memang sedang sangat
pening tapi aku yakin aku belum kehilangan kewarasanku.
Namun
rasa penasaran yang besar mendorongku untuk mencoba petualangan kuliner
yang sedikit menakutkan itu. Maksudku, belum pernah ada yang tahu 'kan
daging manusia itu rasanya seperti apa? Bagaimana jika yang aku
bayangkan benar? Bagaimana jika daging manusia tidak kalah lezatnya
dengan daging sapi? Lenganku sudah sangat dekat dengan mulutku, hampir
menyentuh bibir, tapi rahangku tertahan oleh ketakutan akan rasa sakit
ketika terkena gigitan. Kepalaku yang semakin terasa pusing berbisik
meyakinkanku...
"Satu gigitan saja tidak akan terlalu terasa sakit 'kan?"
Terdorong
oleh rasa lapar yang sangat menyiksa, tanpa ragu lagi aku mengigit
lengan kiriku dengan cepat dengan harapan rasa sakitnya akan berlalu
dengan cepat juga. Sambil mengunyah potongan daging sesekali aku menahan
rasa sakit akibat luka gigitan di lenganku, tapi rasa lapar mengalahkan
segalanya. Aku tidak percaya aku benar-benar melakukan semua kegilaan
ini!
Sambil
terus mengunyah aku menangis meratapi diriku sendiri yang menyedihkan
ini. Aku tidak tahu apakah aku sudah kehilangan akal? Aku tidak tahu
apakah aku sudah demikian putus asanya? Aku tidak tahu apa yang harus
kulakukan setelah ini,
Tapi ada satu hal yang akhirnya aku ketahui sekarang...
INI ADALAH DAGING TERLEZAT YANG PERNAH AKU MAKAN !!!
-----------------------------------------
Zakiy Yumanto,
web designer, 27 tahun
Original Story Created By Yonathan Lim
yonthlim@yahoo.com



0 komentar:
Post a Comment